FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Buntut Materi 'Mens Rea', Pandji Pragiwaksono Tuai Kritik Tompi hingga Dilaporkan ke Polisi

News

Buntut Materi 'Mens Rea', Pandji Pragiwaksono Tuai Kritik Tompi hingga Dilaporkan ke Polisi

Writer: Ami Fatimatuz Zahro - Jumat, 09 Januari 2026 09:58:33

Buntut Materi 'Mens Rea', Pandji Pragiwaksono Tuai Kritik Tompi hingga Dilaporkan ke Polisi
Sumber gambar: Pinterest

FYP Media - Komika senior Pandji Pragiwaksono tengah menjadi sorotan tajam publik usai perilisan pertunjukan spesial stand-up comedy miliknya yang bertajuk Mens Rea di layanan streaming Netflix. Materi komedi yang dibawakan dalam tur tersebut kini menuai polemik ganda, mulai dari laporan kepolisian terkait dugaan fitnah terhadap organisasi keagamaan hingga kritik medis dari rekan sesama figur publik, dr. Tompi.

Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Sorotan paling serius datang dari ranah hukum. Pandji resmi dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 8 Januari 2026 oleh pihak yang mengatasnamakan Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) bersama Aliansi Muda Muhammadiyah.

Laporan tersebut berkaitan dengan materi Pandji yang menyinggung isu pemberian izin tambang kepada ormas keagamaan. Pelapor menilai narasi yang dibangun Pandji mengandung unsur fitnah dan merendahkan marwah organisasi.

Rizki Abdul Rahman Wahid, yang mengaku sebagai Presidium Angkatan Muda NU, menjelaskan alasan pelaporannya kepada awak media.

"Kami melaporkan bahwa ada kasus yang menurut kami beliau merendahkan, memfitnah, dan cenderung menimbulkan kegaduhan di ruang media," kata Rizki, Kamis (8/1).

Ia menambahkan bahwa materi tersebut berpotensi memecah belah, terutama di kalangan generasi muda kedua ormas Islam terbesar di Indonesia itu.

"Narasi fitnahnya adalah menganggap bahwa NU dan Muhammadiyah terlibat dalam politik praktis yang terus kemudian ini disampaikan seolah-olah NU dan Muhammadiyah mendapatkan tambang begitu karena imbalan begitu ya imbalan karena telah memberikan suaranya terhadap kontestasi pemilu yang kemarin," ucap dia.

Pihak kepolisian pun telah membenarkan adanya laporan tersebut yang terdaftar dengan nomor LP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA.

"Benar bahwa 8 Januari ada laporan dari masyarakat atas nama [inisial] RARW," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, Jumat (9/1). 

"Penyidik akan melakukan klarifikasi dan analisa barang bukti, agar masyarakat tetap bijak dalam menyampaikan informasi. Beri ruang bagi penyelidik dan penyidik dalam proses penegakan hukum," tambahnya.

Respons PBNU: Pelapor Bukan Representasi Organisasi

Di tengah memanasnya isu pelaporan ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan klarifikasi penting. Ketua PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil, menegaskan bahwa kelompok pelapor tersebut tidak memiliki afiliasi struktural dengan PBNU.

"Kalau representasi PBNU jelas tidak," tegas Gus Ulil. Ia menjelaskan bahwa fenomena pencatutan nama NU sering terjadi karena sifat organisasi yang terbuka.

"Tetapi sejak dulu kan banyak orang bikin ini itu atas nama NU. Karena NU itu sifatnya terbuka, ya memang siapa saja bisa bikin lembaga atas nama NU," jelasnya.

Lebih jauh, Gus Ulil justru menyayangkan langkah hukum yang diambil terhadap seorang komedian. Menurutnya, ruang humor harus dijaga dalam demokrasi.

"Kita butuh banyak ketawa di negeri ini. Kasihan kalau komedian yang bikin banyak orang tertawa harus dilaporkan ke aparat hukum. Humor adalah koentji," katanya.

Kritik Medis Tompi soal "Mata Mengantuk"

Selain masalah hukum, materi Mens Rea juga mendapat sorotan dari penyanyi sekaligus dokter bedah plastik, Tompi. Melalui akun Instagram pribadinya, Tompi mengkritik bit atau lelucon Pandji yang membahas kondisi fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dalam materinya, Pandji sempat melontarkan guyonan mengenai mata Gibran yang terlihat sayu sebagai analogi memilih pemimpin berdasarkan fisik.

"Ada yang milih pemimpin berdasarkan tampang, banyak. Ganjar ganteng ya. Anies manis ya. Prabowo gemoy ya. Atau Wakil Presidennya, Gibran ngantuk ya. Salah nada salah nada, maaf, Gibran ngantuk ya? Nah gitu nadanya. Gibran ngantuk ya? Kayak orang ngantuk ya dia," ucap Pandji dalam pertunjukan tersebut.

Tompi menilai, menjadikan kondisi anatomis seseorang sebagai bahan tertawaan adalah bentuk kemalasan berpikir. Ia memberikan edukasi medis bahwa kondisi mata Gibran dikenal sebagai Ptosis.

"Apa yang terlihat 'mengantuk' pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali BUKAN BAHAN LELUCON," tulis Tompi.

Tompi mengajak publik dan para komika untuk lebih bijak dalam melontarkan kritik. Ia menekankan bahwa serangan sebaiknya diarahkan pada gagasan, bukan fisik.

"Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya. Karena martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline," tegasnya.

Meski demikian, Tompi tetap mengapresiasi keseluruhan pertunjukan Pandji. "Btw saya nonton show-nya di Netflix, keren kok materinya. BANYAK BENERnya," tambah Tompi.

Pandji Pragiwaksono sendiri terlihat merespons kritik Tompi tersebut dengan positif di kolom komentar. "Keren Tom. Terima kasih koreksinya," tulis Pandji singkat.


 

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us