FYP
Media
Memuat Halaman...
0%
Desa Jatiluwih Bali, Sawah Terasering Ikonik Warisan Dunia UNESCO

News

Desa Jatiluwih Bali, Sawah Terasering Ikonik Warisan Dunia UNESCO

Writer: Raodatul - Minggu, 04 Januari 2026 09:42:26

Desa Jatiluwih Bali, Sawah Terasering Ikonik Warisan Dunia UNESCO
Sumber gambar: Kenali Lebih Dekat Desa Jatiluwih, Pesona Sawah Terasering yang Diakui UNESCO (Nyoman Hendra Wibowo/Antara)

FYPMedia.id - Desa Wisata Jatiluwih di Bali telah lama dikenal sebagai salah satu lanskap pertanian terindah di dunia. Hamparan sawah terasering yang hijau membentang luas di kaki Gunung Batukaru, menghadirkan panorama alam yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan filosofi hidup masyarakat Bali. 

Keistimewaan inilah yang membuat Jatiluwih diakui UNESCO sebagai bagian dari Warisan Budaya Dunia.

Berada di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Desa Jatiluwih terletak di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 685 meter di atas permukaan laut (mdpl). 

Kondisi geografis ini menjadikan kawasan Jatiluwih memiliki udara sejuk, lanskap perbukitan yang dramatis, serta sistem pertanian tradisional yang tetap lestari hingga kini.

Lebih dari sekadar destinasi wisata alam, Desa Jatiluwih merupakan simbol harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. 

Di tengah derasnya arus modernisasi, desa ini mampu mempertahankan sistem pertanian tradisional yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Ikon Sawah Terasering Bali yang Mendunia

Nama Jatiluwih kerap disandingkan dengan sawah terasering ikonik Bali. Lanskap sawah berundak yang mengikuti kontur alam perbukitan menciptakan pemandangan dramatis yang kerap disebut sebagai salah satu “surga hijau” Indonesia.

Setiap musim tanam menghadirkan warna berbeda, mulai dari hijau segar padi muda hingga kuning keemasan saat panen tiba. 

Keindahan ini menjadikan Jatiluwih sebagai magnet wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus lokasi favorit untuk fotografi, trekking, hingga wisata edukasi pertanian.

Namun, pesona Jatiluwih tidak hanya terletak pada visualnya. Di balik hamparan sawah tersebut, tersimpan sistem pengelolaan air tradisional bernama Subak yang menjadi jantung kehidupan masyarakat setempat.

Baca Juga: Danau Toba Dapat Hadiah ‘Kartu Kuning’ Dari UNESCO

Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia

Pengakuan internasional terhadap Desa Jatiluwih mencapai puncaknya pada 29 Juni 2012. Berdasarkan catatan resmi Kementerian Pariwisata, sistem pengairan tradisional Subak di Bali resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Pengakuan ini mencakup lanskap budaya Subak di berbagai wilayah Bali, termasuk Jatiluwih. Sistem ini dinilai sebagai perwujudan filosofi Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam.

Pengakuan UNESCO tidak hanya mengangkat nama Jatiluwih di kancah global, tetapi juga mempertegas pentingnya menjaga warisan budaya yang hidup dan terus dipraktikkan oleh masyarakat.

Subak, Sistem Irigasi Berusia Ratusan Tahun

Sistem Subak bukanlah teknologi baru. Melansir situs resmi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Subak dipercaya telah ada sejak tahun 1071 Masehi. 

Keberadaan sistem ini diperkuat oleh prasasti Klungkung yang ditemukan pada tahun 1072 M, di mana istilah “Subak” telah disebutkan secara tertulis.

Subak lahir dari kebutuhan masyarakat Bali untuk mengelola air secara adil dan berkelanjutan. Kondisi geografis Jatiluwih yang berada di dataran tinggi dan dikelilingi perbukitan membuat distribusi air menjadi tantangan besar bagi para petani di masa lalu.

Dari sinilah kemudian berkembang sistem irigasi tradisional yang mengatur aliran air dari sumber mata air pegunungan menuju sawah-sawah warga. Air dialirkan melalui jaringan kanal dan terowongan yang dikelola secara kolektif oleh komunitas petani.

Subak tidak hanya mengatur teknis pengairan, tetapi juga mengandung nilai sosial dan spiritual. Setiap keputusan terkait pengelolaan air diambil melalui musyawarah, dan ritual keagamaan menjadi bagian tak terpisahkan dari siklus pertanian.

Masuk Best Tourism Village 2024

Prestasi Desa Wisata Jatiluwih tidak berhenti pada pengakuan UNESCO. Pada tahun 2024, desa ini kembali mencatatkan prestasi internasional dengan terpilih sebagai salah satu Best Tourism Village oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO).

Mengutip situs resmi Kemenpar, penghargaan ini diberikan kepada destinasi pedesaan yang menunjukkan komitmen kuat terhadap keberlanjutan, pelestarian budaya, inovasi pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Pengumuman tersebut disampaikan pada 14 November 2024 dalam acara puncak UNWTO yang digelar di Cartagena de Indias, Kolombia, dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube resmi UNWTO. Desa Wisata Jatiluwih terpilih bersama Desa Wisata Wukirsari sebagai wakil Indonesia.

Penghargaan ini menegaskan posisi Jatiluwih sebagai contoh sukses pengembangan pariwisata berbasis desa yang tetap menjaga jati diri budaya.

Baca Juga: 7 Destinasi Liburan Terbaik Bersama Keluarga Yang Harus Dikunjungi

Lanskap Pertanian yang Sarat Nilai Budaya

Hamparan sawah terasering Jatiluwih bukan hanya keindahan visual, melainkan cerminan kerja keras, kebersamaan, dan kearifan lokal masyarakat Bali. Setiap petak sawah dirawat dengan prinsip keberlanjutan, tanpa eksploitasi berlebihan terhadap alam.

Kementerian Pariwisata menyebut bahwa lanskap ini merepresentasikan pelestarian nilai budaya Bali yang masih hidup dan dijalankan secara turun-temurun. 

Aktivitas bertani, ritual keagamaan, hingga tata ruang desa membentuk satu kesatuan yang harmonis.

Wisatawan yang berkunjung ke Jatiluwih tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga belajar memahami filosofi hidup masyarakat Bali yang menjunjung keseimbangan alam.

Rumah Keanekaragaman Hayati Bali

Selain dikenal sebagai kawasan pertanian, Jatiluwih juga merupakan bagian dari ekosistem penting di Bali. 

Melansir laman Jadesta Kemenparekraf, wilayah sekitar Desa Wisata Jatiluwih dikelilingi hutan lindung seluas sekitar 24 hektare.

Lingkungan yang masih asri menjadikan Jatiluwih sebagai habitat berbagai flora dan fauna. Area persawahan dan vegetasi di sekitarnya mendukung keberadaan satwa endemik Bali.

Salah satu fauna yang kerap dijumpai wisatawan adalah kukang jawa, spesies endemik yang hidup di kawasan hutan sekitar Jatiluwih. Keberadaan satwa ini menjadi indikator bahwa ekosistem di wilayah tersebut masih terjaga dengan baik.

Baca Juga: 7 Museum Terbaik di Asia: Destinasi Edukasi untuk Eksplorasi Sejarah dan Seni

Destinasi Wisata Berbasis Keberlanjutan

Pengelolaan Desa Wisata Jatiluwih mengedepankan prinsip pariwisata berkelanjutan. Aktivitas wisata dirancang agar tidak merusak lingkungan maupun mengganggu aktivitas bertani warga.

Wisatawan dapat menikmati jalur trekking di tengah sawah, belajar tentang sistem Subak, hingga mengikuti aktivitas budaya lokal. 

Pendapatan dari sektor pariwisata juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Model ini menjadikan Jatiluwih sebagai contoh bagaimana pariwisata dapat tumbuh tanpa mengorbankan lingkungan dan budaya lokal.

Daya Tarik Global yang Tetap Membumi

Popularitas Desa Jatiluwih di mata dunia tidak mengubah karakter desa ini. Kehidupan masyarakat tetap berjalan seperti biasa, dengan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi.

Pengakuan internasional justru menjadi motivasi bagi warga untuk semakin menjaga warisan leluhur. Bagi Bali dan Indonesia, Jatiluwih bukan sekadar destinasi wisata, melainkan simbol keberhasilan melestarikan budaya di tengah modernisasi.

Kesimpulan

Desa Wisata Jatiluwih adalah perpaduan sempurna antara keindahan alam, kearifan lokal, dan filosofi hidup yang mendalam. 

Pengakuan UNESCO dan UNWTO menjadi bukti bahwa sistem pertanian tradisional Bali memiliki nilai universal yang diakui dunia.

Dengan sawah terasering yang ikonik, sistem Subak berusia ratusan tahun, serta komitmen kuat terhadap keberlanjutan, Jatiluwih layak disebut sebagai salah satu permata pariwisata Indonesia yang tak ternilai.

Mau Diskusi Project Baru?

Contact Us