Writer: Raodatul - Selasa, 03 Februari 2026 18:58:37
FYPMedia.id - Sensasi panas atau rasa terbakar di dada kerap dianggap gangguan pencernaan biasa. Banyak orang mengalaminya setelah makan terlalu banyak, mengonsumsi makanan pedas, atau minum kopi.
Namun para ahli kini mengingatkan bahwa rasa tidak nyaman di dada yang terus berulang bisa menjadi sinyal serius dari penyakit mematikan yang kerap luput terdeteksi: kanker esofagus.
Peringatan ini disampaikan menyusul meningkatnya kasus kanker esofagus yang baru terdiagnosis saat sudah memasuki stadium lanjut, kondisi yang secara signifikan menurunkan peluang kesembuhan.
Kondisi ini dinilai sebagai salah satu kanker paling “terabaikan” karena gejalanya sering disamarkan oleh keluhan pencernaan sehari-hari.
Heartburn Dialami Banyak Orang, Tapi Tidak Selalu Aman
Mengutip laporan dari The Sun, sekitar empat dari sepuluh orang mengalami gangguan pencernaan atau refluks asam lambung (heartburn).
Dalam sebagian besar kasus, kondisi ini memang tidak berbahaya dan dapat membaik dengan perubahan pola makan atau konsumsi obat antasida.
Namun, badan amal kesehatan Action Against Heartburn memperingatkan bahwa heartburn yang berlangsung lama atau berulang dapat menjadi gejala utama kanker esofagus.
Masalahnya, banyak penderita tidak menyadari risiko tersebut dan baru memeriksakan diri ketika penyakit sudah berkembang jauh.
Baca Juga: Nyeri Dada Mirip Asam Lambung? Ini Bedanya GERD dan Serangan Jantung
Lonjakan Diagnosis Stadium Akhir Mengkhawatirkan
Data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Proporsi pasien kanker esofagus yang didiagnosis pada stadium 4—fase ketika kanker telah menyebar ke organ lain—meningkat 46 persen sejak tahun 2013.
Lebih dari sepertiga pasien baru mengetahui kondisi mereka ketika kanker sudah berada pada tahap yang tidak dapat disembuhkan.
Setiap tahunnya, sekitar 9.200 orang didiagnosis menderita kanker esofagus, dan sekitar 80 persen pasien meninggal dunia dalam waktu lima tahun setelah diagnosis.
Angka tersebut menjadikan kanker esofagus sebagai salah satu jenis kanker dengan tingkat kematian tertinggi, terutama karena keterlambatan deteksi.
Kanker Esofagus Disebut “Kanker yang Terlupakan”
Ketua Action Against Heartburn, Jill Clark, menilai rendahnya kesadaran masyarakat menjadi faktor utama keterlambatan diagnosis. Ia menyebut kanker esofagus sebagai penyakit yang sering luput dari perhatian publik maupun tenaga kesehatan.
"Alasan peningkatan diagnosis pada stadium lanjut masih belum jelas, tetapi kemungkinan disebabkan oleh kombinasi tekanan pada NHS (National Health Service)/ Layanan Kesehatan Nasional), keterlambatan rujukan, gaya hidup tidak sehat, populasi yang menua, dan kurangnya kesadaran akan gejala," katanya.
Menurut Clark, banyak penderita menganggap gejala awal sebagai gangguan ringan sehingga menunda pemeriksaan medis.
Apa Itu Kanker Esofagus?
Sesuai namanya, kanker esofagus berkembang di esofagus, yaitu saluran yang menghubungkan tenggorokan dengan lambung dan berperan penting dalam proses menelan makanan.
Pada tahap awal, kanker ini sering tidak menimbulkan keluhan yang jelas. Gejala baru muncul ketika tumor mulai membesar atau menyumbat saluran esofagus, sehingga sering kali penyakit telah berkembang cukup jauh saat terdiagnosis.
Baca Juga: Mengenal Kanker Timus, Kanker Langka di Balik Tulang Dada
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Para ahli mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker esofagus, antara lain:
- Kebiasaan merokok
- Konsumsi alkohol berlebihan
- Obesitas
- Refluks asam lambung kronis
- Pola makan tidak sehat
- Usia lanjut
Orang yang mengalami heartburn berkepanjangan atau gangguan pencernaan kronis dinilai memiliki risiko lebih tinggi, terutama jika keluhan tersebut tidak kunjung membaik meski sudah diobati.
Gejala Samar yang Kerap Diabaikan
Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi kanker esofagus adalah gejalanya yang tidak spesifik dan mudah disalahartikan sebagai penyakit ringan.
Ahli bedah NHS di Rumah Sakit Universitas Oxford, Profesor Sheraz Markar, menegaskan bahwa rasa terbakar di dada yang terus-menerus patut menjadi alarm serius.
"Gejala kanker esofagus bisa jadi samar-samar, tetapi tanda yang umum adalah rasa terbakar di dada yang terus menerus," kata Profesor Sheraz.
Selain heartburn, ia menyebut beberapa gejala lain yang juga perlu diwaspadai.
"Gejala lainnya dapat mencakup kesulitan menelan, merasa atau muntah, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, atau gangguan pencernaan kronis," tambahnya.
Gejala-gejala tersebut sering muncul secara perlahan dan tidak selalu dirasakan bersamaan, sehingga penderita cenderung mengabaikannya.
Deteksi Dini Jadi Kunci Keselamatan
Profesor Sheraz menekankan pentingnya segera mencari bantuan medis jika mengalami salah satu dari gejala tersebut, terutama bila berlangsung dalam waktu lama atau semakin memburuk.
"Ada pilihan pengobatan yang baik jika terdeteksi sejak dini, tetapi akan jauh lebih sulit jika sudah menyebar."
Pada tahap awal, kanker esofagus masih memiliki peluang untuk ditangani melalui operasi, radioterapi, atau kemoterapi.
Namun ketika kanker sudah mencapai stadium lanjut, pilihan pengobatan menjadi terbatas dan lebih bersifat paliatif.
Baca Juga: Kenali Sejumlah Penyebab Nyeri di Kaki
Mengapa Banyak Kasus Terlambat Terdeteksi?
Para pakar menilai keterlambatan diagnosis dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari minimnya kesadaran masyarakat, tekanan pada sistem layanan kesehatan, hingga kecenderungan pasien menyepelekan gejala.
Selain itu, heartburn sering kali diobati sendiri dengan obat bebas tanpa konsultasi dokter. Praktik ini membuat gejala kanker esofagus tersamarkan dan tidak terdeteksi hingga kondisinya memburuk.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Meski tidak semua kasus dapat dicegah, sejumlah langkah berikut dapat membantu menurunkan risiko kanker esofagus:
- Menghentikan kebiasaan merokok
- Membatasi konsumsi alkohol
- Menjaga berat badan ideal
- Mengelola refluks asam lambung secara medis
- Menerapkan pola makan sehat
- Segera memeriksakan diri jika mengalami gangguan pencernaan berkepanjangan
Kesadaran akan sinyal tubuh menjadi langkah awal yang sangat penting.
Jangan Abaikan Sinyal Tubuh
Rasa tidak nyaman di dada memang sering dianggap sepele. Namun para ahli mengingatkan bahwa gejala ringan yang berlangsung lama bisa menjadi peringatan dini penyakit serius.
Dengan meningkatnya angka kanker esofagus stadium lanjut, masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga medis.
Deteksi dini bukan hanya memperbesar peluang kesembuhan, tetapi juga dapat menyelamatkan nyawa.